PREDIKAT NEGATIF MENIKAH SEBELUM KULIAH DI PERGURUAN TINGGI DITINJAU DARI UU PERKAWINAN

Authors

  • Dody Wahono Suryo Alam Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Abu Zairi Bondowoso
  • Taufik Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Abu Zairi Bondowoso

DOI:

https://doi.org/10.58293/asa.v4i1.41

Keywords:

Pernikahan usia muda, SMA, Islam, Kuliah

Abstract

Syarat sah nya perkawinan menurut UU Perkawinan no 1 tahun 1974 salah satunya jika laki laki berumur 19 tahun dan perempuan berumur 19 tahun. Tetapi setelah mematuhi UU perkawinan tersebut ternya masih ada cibiran , cemooh, fitnah dll yang pada intinya tercipta predikat yang negatif terhadap calon kedua mempelai yang akan menikah maupun setelah menikah.Hal ini merupakan fenomena nyata yang sebenarnya terjadi sudah sejak lama dan keyakinan penulis semakin bertambah tahun maka semakin menjadi / semakin keras tekanan yang dirasakan bagi para warga negara yang ingin menikah setelah lulus SMA/SMK. Oleh karena itu penulis sangat tertarik untuk membahas dan memberikan solusi yang ideal supaya UU perkawinan tetap dijalankan warga negara dan warga negara tetap aman / nyaman atau tidak merasa di usik/ tidak merasa mendapatkan predikat yang jelek dari masyarakat itu sendiri. Ada beberapa solusi alternatif yang mana penulis akan uraikan di pembahasn ini , diantarany perlu diadakan kegiatan sosialisasi UU perkawinan dan juga diiringi dengan siraman kalbu yang dikemas dengan acara ceramah pengajian yang di agendakan rutin oleh pemerintah bersama dengan MUI,NU,Muhammadiyah dan ormas Islam lainya serta seluruh tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Dan yang tidak kalah pentingnya yaitu harus ada branding atau penegasan yang diulang ulang bahwa menikah setelah SMK / SMU itu bukan kategori menikah pada usia dini dan bahkan bukan menikah yang belum waktunya seperti yang diisukan dimasyarakat.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassana, Taudhin Al-Ahkam Min Bulugh Al Maram (syarah Bulugh Maram), (Jakarta: Pustaka Azzam, Jilid 5, 2006), h. 252.

Abdurrahman. Himpunana Peraturan Undang-undang Tentang Perkawinan,

Abu Al-Ghifar, Badai Rumah Tangga. (Bandung: Mujahid Press, 2003), h. 132

As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, h. 10-15

Bagir, Muhammad, Fiqih Praktis Menurut al-Qur‟an, Assunnah dan Pendapat Para

Hairi, Pernikaha Dini Dikalangan Masyarakat Madura (Studi Kasus Di Desa Bajur

Jakarta, Akademika Presindo, 1986.

Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan), Skripsi S1 Program Studi Sosiologi Agama Fakultas

Pengadilan Agama Mungkid.” skripsi. Yogyakarta: Fakultas Al-Ahwalu Ays-Syaksiyyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2010.

Ulama, (Bandung: Karisma, 2008), h. 3-4.

Ushulluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (Yogyakarta: 2009), h. 45

Yusuf, Muhammad. “Pandangan Hukum Islam Terhadap Pernikahan Dini Di

Holid, M., al-Jazili, A. U., & Makrifah, A. (2021). DAMPAK NIKAH PAKSA TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA. ASA, 3(1), 18–32. Diambil dari https://ejournal.stisabuzairi.ac.id/index.php/asa/article/view/46

Mulyadi, Wahono, D., & Dila Hasanah, F. (2021). STUDI KOMPARATIF MENURUT HUKUM POSITIF DAN MASLAHAH TERHADAP PERNIKAHAN DINI. ASA, 3(1), 33–44. Diambil dari https://ejournal.stisabuzairi.ac.id/index.php/asa/article/view/48

Mulyadi, & Dahlan, A. (2021). KAFAAH DALAM PERNIKAHAN MENURUT ULAMA FIQH. ASA, 3(2), 28–40. Diambil dari https://ejournal.stisabuzairi.ac.id/index.php/asa/article/view/29

Taufik, & Wahono Suryo Alam, D. (2021). ANALISIS HUKUM KELUARGA ISLAM TERHADAP TRADISI ABEKHALAN DAN IMPLIKASINYA PADA CALON PENGANTIN. ASA, 3(2), 65–85. Diambil dari https://ejournal.stisabuzairi.ac.id/index.php/asa/article/view/31

Wahono Suryo Alama, D., Taufik, & Nail, H. (2020). BUDAYA PREWEDDING DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM. ASA, 2(2), 69–81. Diambil dari https://ejournal.stisabuzairi.ac.id/index.php/asa/article/view/10

Published

2022-02-12

How to Cite

Wahono Suryo Alam, D., & Taufik. (2022). PREDIKAT NEGATIF MENIKAH SEBELUM KULIAH DI PERGURUAN TINGGI DITINJAU DARI UU PERKAWINAN. ASA, 4(1), 50–57. https://doi.org/10.58293/asa.v4i1.41

Issue

Section

Artikel