KONSEP TALAK SEBAGAI MEKANISME TERAKHIR BERDASARKAN HADIS LARANGAN MENJATUHKAN TALAK TANPA ALASAN JELAS
ANALISIS LITERATUR NORMATIF
DOI:
https://doi.org/10.58293/h.v1i01.176Kata Kunci:
Talak, Etika Perceraian, Rekonsiliasi keluarga, Hukum Keluarga IslamAbstrak
Talak merupakan salah satu instrumen hukum keluarga dalam Islam yang diberikan kepada suami sebagai mekanisme penyelesaian ketika hubungan suami istri tidak dapat lagi dipertahankan. Namun, talak bukanlah tindakan yang dianjurkan; justru terdapat sejumlah hadis Nabi yang mengecam perceraian tanpa alasan jelas. Salah satu di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan Ibn Majah “perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”, yang oleh para ulama dipahami sebagai etika moral agar talak tidak dijadikan pilihan utama sebelum upaya rekonsiliasi dijalankan. Dalam perkembangan masyarakat modern, angka perceraian cenderung meningkat dan sering kali talak dijatuhkan tanpa proses musyawarah, mediasi, atau upaya penyelesaian konflik yang memadai. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep normatif dalam khazanah fikih dan praktik talak yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian literatur yang komprehensif untuk mengungkap kembali bagaimana talak seharusnya dipahami sebagai mekanisme terakhir (last resort mechanism), sebagaimana ditunjukkan oleh teks-teks hadis dan penafsiran ulama. Kajian ini menjadi penting untuk memberikan perspektif baru bagi pengembangan hukum keluarga Islam, terutama dalam konteks pembinaan keluarga, kebijakan pengadilan agama, dan penyuluhan keagamaan. Melalui pendekatan analisis literatur normatif, penelitian ini diharapkan mampu menguraikan prinsip-prinsip dasar yang mendasari larangan talak tanpa alasan jelas, serta merumuskan implikasi praktisnya bagi sistem hukum keluarga kontemporer
Referensi
Al-Nawawī, Rawḍat al-Ṭālibīn, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991, jilid 9
Ibn Mājah, Sunan Ibn Mājah, Kitāb al-Ṭalāq, no. 2018; lihat pula al-Ḥākim, al-Mustadrak, jilid 2
Muhammad Abu Zahrah, al-Aḥwāl al-Syakhṣiyyah, Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 1957
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2017
Wahbah al-Zuḥaylī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh, Damaskus: Dār al-Fikr, 1989, jilid 7
Ibn Qudāmah, al-Mughnī, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997, jilid 7
Al-Nawawī, Rawḍat al-Ṭālibīn, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991, jilid 9
Al-Sarakhsī, al-Mabsūṭ, Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t., jilid 6
Yusuf al-Qarḍhāwī, Fiqh al-Usrah al-Muslimah, Kairo: Maktabah Wahbah, 1996
Abu Dawud, Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Ṭalāq, no. 2194
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Jilid 2, Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah, I‘lām al-Muwaqqi‘īn ‘an Rabb al-‘Ālamīn, Jilid 3, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 BAITUL HIKMAH

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.


